moralitas sekuler

Makalah :

MORALITAS SEKULER

 

 

 

 

 

Oleh :

1. Ahmad Muzoffar               (11401241015)

2. Asriati Dwi N.S.                (11401241018)

3. Eka Febri Astuti               (11401241027)

4. Fitriyani T. D. S.               (11401241034)

 

 

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN HUKUM

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011

 

KATA PENGANTAR

 

            Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allas SWT atas limpahan rahmat, hidayah serta karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan lancar dan tepat pada waktunya dengan judul Moralitas Sekuler”.

            Makalah ini dibuat untuk memenihi tugas semester 2 pada mata kuliah Moral Agama Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Penyusun menyadari bahwa tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, penulisan karya tulis ilmiah ini tidak dapat segera diselesaikan.

            Oleh Karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

  1.  Dr. Marzuki, M.Ag dosen pengampu mata kuliah Moral Agama, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.
  2. Semua pihak-pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu atas bantuan yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk penyelesaian makalah ini.

“Tak ada gading yang tak retak” serta sebagai insan biasa, penyusun menyadari atas kekurangan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Kritik dan saran yang sifatnya membangun selalu penyusun harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi diri penyusun dan pembaca pada umumnya.

 

 

 

Yogyakarta, 26 Maret 2012

 

 

                                                                                        Penyusun


DAFTAR ISI

 

Halaman Sampul …………………………………………………………………………….  i

Kata Pengantar ………………………………………………………………………………  ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………  iii

 

BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………..  1

1.1  Latar Belakang Masalah ………………………………………………….  1

1.2  Rumusan Masalah …………………………………………………………..  2

 

BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………………………  3

2.1. Moral Sekuler ………………………………………………………………..  3

2.2. Moral Sekuler Menurut Para Ahli…………………………………….. 4

2.2.1. Immanuel Kant …………………………………………………….  4

2.2.2. Psikoanalisis Sigmund Freud …………………………………… 5

2.2.3. Teori Kognitif Jean Piaget ………………………………………. 6

2.2.4. TeoriKognitif Lawrence Kohlberg ……………………………. 8

BAB III. PENUTUP ………………………………………………………………………  11

3.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………  11

 

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………….  12

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sekularisme pertama kali muncul di Eropa. Tapi mulai diperhitungkan keberadaannya secara politis bersamaan dengan lahirnya revolusi Perancis tahun 1789 M. berkembang merata ke seluruh Eropa pada abad ke-19 M. kemudian tersebar lebih luas lagi ke berbagai negara di dunia, terutama dalam bidang politik dan pemerintahan, yang pada abad ke-20 M, dibawa oleh penjajah dan missionaris Kristen.

Masyarakat modern sekarang, terlebih bagi masyarakat beragama, pastilah berpendapat bahwa moral yang ada dalam diri mereka itu berasal dari ajaran agama. Mereka yakin bahwa moral itu merupakan bagian dari agama. Moral dan agama saling adalah dua hal yang saling berkaitan.

Namun, terlepas dari itu, ada beberapa filsuf yang beranggapan bahwa moral itu merupakan suatu hal yang digali dari diri manusia sendiri. Moral bukanlah bagian dari ajaran agama. Mereka beranggapan bahwa agama tidak mempengaruhi moralitas seseorang.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Reverend Hastings Rashdall dalam teori of good and evil yang menyatakan bahwa moralitas tidak dapat didasarkan atas atau didedukasikan dari proposisi metafisis atau teologis apapun. Pertimbangan moral itu bersifat akhir dan langsung. Kepercayaan kepada tuhan bukanlah postulat moralitas dalam arti bahwa penolakan terhadapnya melibatkan penolakan atas semua makna atau validitas bagi perkembangan moral kita, melainkan penerimaan atau penolakan atas kepercayaan ini tidak secara material mempengaruhi makna yang kita berikan kepada ide kewajiban. Kepercayaan pada objektifitas pada pertimbangan moral mengimplikasikan bahwa buku moral disadari bukan hanya sebagai unsure yang bersifat kebetulan dalam konstruksi pikiran manusia, melainkan sebagai fakta akhir alam semesta. Kepercayaan pada tuhan dapat diperikan sebagai postulat moralitas dalam arti yang kurang ketat dan sekunder (Henry Hazlitt, 2003: 431).

Sedangkan Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan, bahwa sebab-sebab kemunculan sekularisme di dunia Barat Masehi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: faktor agama, pemikiran, psikologi, sejarah dan realitas kehidupan empiris.

Karena adanya banyak pendapat dari berbagai filsuf, pada bab selanjutnya akan kita bahas mengenai pendapat-pendapat dari beberapa ahli tentang moral sekuler agar lebih jelas dan dapat diketahui apa itu moral sekuler.  

1.2. Rumusan masalah

  1. Apa itu moral sekuler?
  2. Bagaimana moral sekuler menurut para ahli?

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Moral Sekuler

Secara leksikologis, kata secular berasal dari bahasa Inggris yang berarti; yang bersifat duniawi, fana, temporal, yang tidak bersifat spiritual, abadi dan sacral, kehidupan diluar biara dan sebagainya. Sedangkan istilah sekuler yang berasal dari kata latin saeculum mempunyai arti ganda, ruang dan waktu. Ruang menunjuk pada pengertian duniawi, sedangkan waktu menunjuk pada pengertian sekarang atau zaman kini. Jadi kata saeculum berarti masa kini atau zaman kini. Dan masa kini atau zaman kini menunjuk pada peristiwa didunia ini, atau juga berarti peristiwa masa kini. Atau boleh dikatakan bahwa makna “sekuler” lebih ditekankan pada waktu atau periode tertentu di dunia yang dipandang sebagai suatu proses sejarah.

Konotasi ruang dan waktu (spatio-temporal) dalam konsep sekuler ini secara historis terlahirkan di dalam sejarah Kristen Barat. Di Barat pada Abad Pertengahan, telah terjadi langkah-langkah pemisahan antara hal yang menyangkut masalah agama dan non agama (bidang sekuler). Dalam perkembangannya, pengertian sekuler pada abad ke-19 diartikan bahwa kekuasaan Gereja tidak berhak campur tangan dalam bidang politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Pada waktu itu sudah ada yang menentang sekularisasi, misalnya Robertson dari Brighton, yang pada tahun 1863 mengatakan,”kita mengecap suatu bidang kehidupan sebagai sekuler, dan kemudian agama menjadi hal yang kabur dan tidak riil.

Sekulerisme di rumuskan kali pertama oleh George Jacob Holyoake (1817-1906). Yang pada awalnya belum berupa aliran etika dan filsafat, melainkan hanya gerakan protes sosial dan politik. Prinsip esensial dari sekularisme ialah mencari materi semata, sehingga dapat dikategorikan menjadi materialism. Etika dalam sekularisme berdasarkan pada kebenaran ilmiah, kebenaran yang bersifat sekuler yang tidak terkait oleh agama dan metafisika. (Juhaya S. Prada,2008: 189)

Sekularisme lahir disaat pertentangan antara ilmu (sains) dan agama sangat tajam (agama- kristen). Ilmu tampil dengan independensinya yang mutlak, sehingga bersifat sekuler. Kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui pengalaman yang telah menghasilkan kemajuan ilmu-ilmu sekuler seperti matematika, fisika dan kimia telah berhasil membawa kemajuan bagi kehidupan manusia. Dan kebenaran ilmiah itu harus mendasari etika, tingkah laku, dan perikehidupan manusia. Disini, tampak adanya pengaruh positivisme dan sekularisme. (Juhaya S. Prada,2008: 190)

Dalam pandangan sekuler agama merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Paham ini memiliki prinsip bahwa theisme dan atheisme tidak dapat dibuktikan dengan nalar yang artinya itu semua berada diluar cakupan sekularisme. Dalam sekularisme prinsip rasio sangatlah dijunjung tinggi, karena dalam sekularisme ilmu pengetahuan diyakini mampu mengajarkan nilai-nilai kebahagiaan, serta situasi-kondisi kehidupan yang mampu menghilangkan kemiskinan dan kejahatan moral. Dalam paham ini juga terdapat toleransi, toleransi menjadi hal yang sangat penting atau bisa disebut sebagai salah satu ciri sekuler, karena kaum sekuler tidak segan-segan untuk bergabung dan bekerja sama dengan kaum theis maupun atheis.

2.2.  Moral Sekuler menurut Para Ahli

2.2.1.      Moral sekuler menurut Immanuel Kant

Immanuel Kant (1724-1804), seorang etikus yang sudah sangat dikenal memiliki pendapat bahwa sebuah kewajiban itu lebih dari sebuah akibat-akibat baik atau sesuatu yang mendasar pada moralitas. Dia berpandangan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan-tindakan yang dituntut oleh sejumlah kewajiban, misalkan berbuatlah jujur, tepatilah janji, jangan menyusahkan orang lain, fair, berterimakasihlah atas kebaikan orang lain. Juga kewajiban pada diri sendiri seperti menyempurnakan pengetahuan, mengembangkan bakat-bakat, dan jangan bunuh diri. (Mike W. Martin dan Roland Schinzinger,1994 : 42-43)

Berbeda dengan pendapat Mill yang berpendapat bahwa kebahagiaan merupakan satu-satunya interistik, Kant disini menghargai kehendak baik yang bermaksud untuk melakukan kewajiban seseorang. Menurut Kant setiap orang memiliki nilai sebagai makhluk rasional jika seseorang itu memiliki kemampuan untuk berkehendak baik. Pendapat Kant juga mempengaruhi sekolah Frankfurt, sekolah ini bertitik tolak dengan anggpan Kant yaitu segala sesuatu adalah hasil karya pengetahuan subyektif manusia yang otonom.

 

2.2.2.      Psikoanalisis Sigmund Freud

Dalam mengembangkan pendekatannya terhadap masalah-masalah yang ada kaitannya dengan  yang tumbuh dan berkembang dalam setiap diri manusia. Interaksi ketiga system energy itulah yang oleh Freud dianggap paling bertanggung jawab terhadap perkembangan karakter dan moralitas manusia. Lebih dari itu, Freud juga menegaskan bahwa karakter dan moralitas seseorang akan nampak lebih jelas lagi pada saat ia mulai bergaul dan berhubungan dengan orang lain.

Ketiga system energy tersebut yaitu, Id, Ego, dan Superego. Masing-masing menempati ruang tersendiri dalam struktur kepribadian manusia. Lebih dari itu, masing-masing juga berfungsi sebagai suatu sistem yang relative mandiri.

Sebagai bagian dari alam bawah sadar (unconscious) manusia, Id juga dianggap sebagai sumber-sumber irasional yang senantiasa mendorong manusia untuk lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pribadinya. Jika Id dikatakan sudah terbawa sejak lahir, maka Ego akan berkembang dalam diri seseorang melalui proses belajar, setidaknya melalui perjumpaan seseorang dengan lingkungan sekitarnya.

Tugas utama Ego adalah mempertahankan kecenderungan manusia untuk tetap berusaha mencapai tujuan-tujuannya. Melalui Egonya seseorang akan selalu mengkaji dan menyikapi kenyataan-kenyataan yang ada di sekitarnya.

Oleh beberapa ahli Psikologi Sosial kesimpulan Freud semacam itu dianggap terlalu berlebihan, karenan diakui bahwa pengorganisasian dan pengintegrasian aspek terpenting dari kepribadian, yaitu Ego, semata-mata disusun dari dorongan-dorongan hati (impulse) yang paling mendasar.

Sebagaimana dikemukakan oleh Freud, Superego mencakup apa yang lazim dikenal sebagai conscience, yaitu suatu fungsi sensor dar ikepribadian manusia. Setiap individu yang berada di sekitar kehidupan seseorang, apakah itu orang tua, guru atau saudara-saudaranya, sangatlah berpengaruh terhadap pembentukan Superego. Dalam hubungannya dengan tahap-tahap perkembangan moral Freud juga mengajukan anggapan dasar, bahwa pada saat anak-anak berkembangke arah kedewasaan, energy psikis mereka (libido) akan bergerak kearah pemuasan kebutuhan yang dikaitkan dengan bagian-bagiantubuh tertentu. Anak-anak yang sudah bias memenuhi kebutuhan serta perkembangan biologis yang mencukupi, mereka menyadari bahwa harus menyesuaikan tingkah lakunya agar dapatditerima menjadi anggota suatu kelompok tertentu.

           

2.2.3.      Teori Kognitif Jean Piaget

Berbeda dengan teori psikoanalisisnya Freud, pendekatan kognitif ini lebih memfokuskan perhatiannya kepada kemampuan piker manusia, dan bukan pada aspek emosinya semata-mata. Lebih dari itu, pendekatan ini juga menaruh perhatian yang cukup besar terhadap usaha manusia di dalam mempelajari hukum-hukum, aturan-aturan, atau prinsip-prinsip pokok lainnya.

Namun ada satu hal yang perlu dipahami bahwa tahap-tahap yang dikemukakan Piaget agaknya lebih terkait dengan aspek mental atau kognitif. Dalam teorinya mengenai perkembangan mental, Piaget menegaskan bahwa anak-anak akan berkembang melalui 4 (empat) tahap pertumbuhan penalaran yang tidak jarang masih bersifat abstrak.

Tentang perkembangan moral itu sendiri, Piaget mengemukakan adanya dua tahap yang harus dilewati setiap individu. Yang pertama disebut tahap Heteronomous atau Relisme Moral. Dalam tahap ini anak cenderung menerima begitu saja aturan-aturan yang diberikan oleh orang-orang yang dianggap kompeten untuk itu. Tahap yang kedua yaitu, Autonomous Morality atau Independensi Moral. Dalam tahap ini anak sudah mempunyai pemikiran akan perlunya memodifikasi aturan-aturan untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Konsep si anak mengenai aturan pada dasarnya tidak hanya terbatas kepada sesuatu yang dianggap dapat berubah-ubah dua tahapan yang berbeda, yaitu antara tahap realism moral dan independensi moral. Bobot dan pertimbangan terhadap kecenderungan anak untuk berbohong agaknya juga menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan dalam tahap realisme moral dan tahap inedependensi moral.

Dalam hal keadilan, Piaget menguraikan tentang pentingnya keadilan distributif, utamanya yang menyangkut bagaimana cara melaksanakan hukuman dan ganjaran-ganjaran yang seharusnya diberikan kepada tiap-tiap anggota kelompok. Keadilan distributive ini, masih menurut Piaget, dapat dibedakan antara yang ekualitas dan ekuitas.

Ekualitas, dalam pandangan Piaget, mempunyai persamaan dengan apa yang selama ini dianut banyak kalangan, yaitu gagasan bahwa setiap orang harus diperlakukan secara sama. Sementara yang ekuitas biasanya memperhitungkan juga pertimbangan-pertimbangan dari masing-masing individu.

 

 

2.2.4.      TeoriKognitif Lawrence Kohlberg

Dalam kasus ini Kohlberg mencoba merevisi dan memperluas teori yang telah dikemukakan oleh Piaget. Kohlberg tetap menggunakan pendekatan dasar Piaget, yaitu menghadapkan anak-anak dengan serangkaian ceritera-ceritera yang memuat dilemma moral. Namun demikian ceritera-ceritera atau situasi yang dikembangkan Kohlberg agaknya lebih kompleks ketimbang yang dipergunakan Piaget.

Pada awalnya Kohlberg mengetengahkan adanya enam tahap perkembangan moral yang harus dilewati seorang anak untuk dapat sampai ketingkat remaja atau tingkat kedewasaan. Berikut dapat dilihat ketiga tingkat perkembangan moral yang masing-masing tinkat memuat pula tahap perkembangan.

  1. 1.      Tingkat Prakonvensional

Pada tingkat pertama ini, seorang anak akan begitu responsive terhadap norma-norma budaya, atau label-label cultural lainnya, seperti persoalan-persoalan yang berkaitan dengan norma baik, buruk, benar, salah dan lain sebagainya.

Tingkat ini dapat dibedakan dua tahap, yaitu :

  1. a.      Tahap Punishment and Obedience Orientation

Pada tahap ini anak-anak umumnya beranggapan bahwa akibat-akibat dari suatu tindakan akan sangat menentukan baik buruknya sesuatu tindakan yang dapat dilakukan tanpa melihat unsur manusianya.

  1. b.      Tahap Instrumental-Relativist Orientation atau Hedonis Orientation

Dalam tahap ini, tindakan yang benar dibatasi sebagai tindakan yang mampu memberikan kepuasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya, atau dalam beberapa hal juga kebutuhan orang lain.

 

  1. 2.      Tingkat Konvensional

Pada tingkat ini upaya memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok, atau masyarakat bangsanya dianggap sebagai sesuatu yang terpuji. Tahap ini lebih memberikan titik tekan kepada usaha aktif untuk memperoleh, mendukung dan mengakui keabsahan tertib sosial, serta usaha aktif untuk mengidentifikasikan diri dengan pribadi-pribadi ataupun kelompok yang ada disekitarnya.

Dalam tingkat ini ada dua tahap perkembangan moral yang lebih tingi dari tingkat sebelumnya, yaitu :

  1. a.      Tahap Interpersonal Concordance atau Good-boy/nicegirl Orientation

Dalam tahap ini, anak-anak yang masih berada di tahap ketiga menurut skema Kohlberg, yang dimaksud dengan tingkah laku bermoral adalah semua tingkah laku yang menyenangkan, membantu atau tindakan-tindakan yang diakui dan diterima oleh orang lain.

 

  1. b.      Tahap Law-and-order Orientation

Dalam tahap ini, orientasi seorang anak akan senantiasa mengarah pada otoritas, pemenuhan aturan-aturan sekaligus supaya memelihara tertib sosial. Tingkah-laku yang dianggap bermoral sebagian dibatasi sebagai tingkah-laku yang diarahkan pada pelaksanaan kewajiban seseorang, penghormatan terhadap sesuatu otoritas, dan pemeliharaan tertib sosial yang diakui sebagai satu-satunya tertib sosial yang ada.

 

  1. 3.      Tingkat Pasca-Konvensional atau Prinsipiel

Pada tingkat ini sudah ada usaha kongkrit dalam diri seorang anak untuk menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang dianggap memiliki validitas, yang diwujudkan tampa harus mengkaitkannya dengan otoritas kelompok atau pribadi-pribadi yang mendukung prinsip-prinsip tersebut, sekaligus terlepas dari identifikasi seorang terhadap kelompok. Tingkat ini mencakup dua tahap, yaitu :

  1. Tahap Social Contract. Legalistic Orientation

Tahap ini umumnya mencakup pula apa yang disebut utilitarian. Tindakan-tindakan yang dianggap bermoral cenderung dibatasi sebagai tindakan-tindakan yang mampu merefleksikan hak-hak individu dan sekaligus memenuhi ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan yang telah disepakati oleh masyarakat luas.

  1. b.      Tahap Orientation of Universal Ethical Principles

Dalam tahap yang paling tinggi menurut skema Kohlberg ini apa yang secara moral dipandangan benar tidak harus dibatasi oleh hukum-hukum atau aturan-aturan dari suatu tertib sosial , akan tetapi lebih dibatasi oleh kesadaran yang ada pada manusia dengan dilandasi oleh prinsip-prinsip etis yang “self-determinated” sifatnya.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Kata secular berasal dari bahasa Inggris yang berarti; yang bersifat duniawi, fana, temporal, yang tidak bersifat spiritual, abadi dan sacral, kehidupan diluar biara dan sebagainya. Sedangkan istilah sekuler yang berasal dari kata latin saeculum mempunyai arti ganda, ruang dan waktu. Ruang menunjuk pada pengertian duniawi, sedangkan waktu menunjuk pada pengertian sekarang atau zaman kini. Jadi kata saeculum berarti masa kini atau zaman kini.

Menurut Kant, moralitas berdasarkan pada konsep kebaikan dan kewajiban. Pendapatnya ini juga dijadikan sebagai titik tolak berdirinya sekolah Frankfurt. Sedang pada pendapat Freud ada tiga pokok yang terdapat pada pendekatannya yaitu Id, Ego, dan Superego. Ini adalah sistem yang digunakan untuk mengembangkan pendekatannya terhadap masalah-masalah yang ada kaitannya dengan  yang tumbuh dan berkembang dalam setiap diri manusia. Berbeda dengan teori psikoanalisisnya Freud, pendekatan kognitif Pieget lebih memfokuskan perhatiannya kepada kemampuan piker manusia, dan bukan pada aspek emosinya semata-mata. Lebih dari itu, pendekatan ini juga menaruh perhatian yang cukup besar terhadap usaha manusia di dalam mempelajari hukum-hukum, aturan-aturan, atau prinsip-prinsip pokok lainnya. Kohlberg mencoba merevisi dan memperluas teori yang telah dikemukakan oleh Piaget. Kohlberg tetap menggunakan pendekatan dasar Piaget, yaitu menghadapkan anak-anak dengan serangkaian ceritera-ceritera yang memuat dilemma moral.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Cheppy Haricahyono. (1995). Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press.

Juhaya S. Praja. (2008). Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media.

Martin, Mike W. dan Roland Schinzinger. (1994). Etika Rekayasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sindhunata. (1983). Dilema Usaha Manusia Rasional. Jakarta: Gramedia.

Hazlitt, Henry. (2003). Dasar-Dasar Moralitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted on Februari 28, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: